Kamu Tidak Perlu Membaca Buku Lain. Kamu Hanya Butuh Tujuan yang Lebih Besar

Written by
Benjamin Hardy

Kamu Tidak Perlu Membaca Buku Lain. Kamu Hanya Butuh Tujuan yang Lebih Besar

Written by
Benjamin Hardy

Kamu Tidak Perlu Membaca Buku Lain. Kamu Hanya Butuh Tujuan yang Lebih Besar

Written by
Benjamin Hardy

“Diawali dengan pertanyaan, kemudian muncul jawaban. Alam semesta keliahatannya punya segala jawaban hanya untuk mereka yang bersungguh-sungguh mencarinya dan mereka yang ingin tahu jawabannya.”-Jim Rohn


Kebutuhan akan informasi menjadi hal utama dalam kehidupan sehari-hari. Daripada belajar untuk melakukan sesuatu, lebih baik belajar untuk membuat mereka berhasil.

Hal ini tidak berhubungan sama sekali.

Membaca banyak buku belum tentu membuat Anda sukses.

Membaca banyak buku pastinya membantu Anda menjadi berhasil, jika Anda sudah punya tekad untuk belajar. Tanpa ada alasan dan tujuan, pembelajaran Anda akan terganggu dan sia-sia.

Untuk hal itulah Jim Rohn berkata , “Diawali dengan pertanyaan, kemudian muncul jawaban.”

Lalu akan timbul pertanyaan. Apa yang sebenarnya Anda kejar?

Apa Anda mengejar sesuatu yang benar-benar Anda inginkan untuk dipelajari dan diraih?

Atau, seperti kebanyakan orang, Anda tertarik pada website yang mengandung banyak informasi ? Yang  “Pernah belajar” tapi tidak bisa mendapatkan jawaban.

Dalam bukunya yang berjudul, Skin in the Game, Nassin Nicholas Taleb berkata, “Sesuatu yang diciptakan tanpa peraturan dalam pemainan akan mendapati masalah.”

Taleb juga berkata: “Orang yang jenius tidak perlu berteriak untuk menunjukkan dirinya.”

Sebelumnya, kita hidup dalam dunia yang menghargai kecerdasan diatas segalanya. Pembelajaran yang sebenarnya tidak diperoleh dari mencari informasi. Tetapi, dari cara dalam mengatur situasi bagaimana dan mengapa Anda hidup.

Dibandingkan harus membaca 100 buku,  sebenarnya Anda lebih mampu untuk mengetahui diri Anda sendiri dalam waktu hanya 5 menit, lalu menaklukan ketakutan Anda. Meditasi yang sejati adalah menghadapi tekanan emosi sendiri.

Menurut pendapat ahli sains dan MIT, Prof. Peter Senge:

“Ada sesuatu yang perlu diperhatikan, ketika seseorang telah mempelajari satu ilmu,  maka orang itu telah menguasainya. Hal ini mengacaukan pemahaman kaum intelektual mengenai cara belajar. Belajar itu seharusnya terus meningkat dengan pemahaman baru dan kebiasaan baru, ‘dipikirkan’ dan ‘lakukan’.”


Informasi dan kebijaksanaan bukanlah hal yang sama

“Kemana perginya kebijaksanaan saat kita ditelan pengetahuan? Kemana perginya pengetahuan saat kita ditelan informasi?” - T.S. Eliot


Bijaksana berarti Anda tahu apa yang harus Anda kejar dan alasannya. Itu menuntut Anda untuk hidup berdasarkan apa yang Anda pahami. Anda seharusnya menata pola pikir Anda saat mengambil tantangan yang lebih besar  – disini kualiatas dari cara berpikir Anda diuji.

Kebijaksanaan membutuhkan apa yang dikatakan oleh Cal Newport, yaitu “Kerja Keras.” Menurut Newport, kebanyakan orang bekerja terburu-buru.

Pekerjan yang mendadak sangat mudah untuk ditiru. Hampir semua orang dapat melakukannya karena hal itu tidak sulit.

Contohnya membaca buku, karena hal itu mudah untuk ditiru. Siapapun bisa memilih satu buku untuk dibaca.

Hanya sedikit orang yang mampu memilih buku yang tepat di waktu yang tepat pula dan dapat langsung diuji setelah membacanya. Sebab itu, Newport mengatidakan, “jelaskanlah apapun pada orang yang membutuhkannya, sekalipun pada orang yang tidak membutuhkannya”.

Mencari informasi dan “belajar” untuk mencapai sesuatu adalah penjelasan yang sebenarnya.

Imajinasi lebih penting daripada Pengetahuan

“Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan. Pengetahuan itu ada batasnya sedangkan imajinasi itu memikirkan tentang seluruh dunia, mengembangkan rangsangan bahkan melahirkan sebuah evolusi.” - Albert Einstein.

Ada sebuah acara bagus di Netflix yang saya dan ketiga anak saya sangat suka menontonnya berjudul “Amazing Interiors”. Film itu menceritakan tentang rumah yang terlihat biasa saja dari luar namun Anda akan tercengang saat melihat isinya.

Yang mendapat perhatian saya adalah bahwa seseorang akan sangat kreatif dan fokus melakukan sesuatu untuk menciptakan sebuah karya yang ia inginkan. Kecerdasan itu mudah didapat saat Anda memiliki alasannya.

Tidak ada kekurangan untuk kemampuan manusia. Yang ada adalah kekurangan imajinasi untuk melakukan hal-hal hebat di hidup Anda.

Tidak peduli seberapa pintarnya diri Anda, maka tidak ada gunanya tanpa imajinasi.

Apa yang sebenarnya ingin Anda lakukan di hidup Anda?

Apa yang bisa Anda lakukan?

Apa yang penting dan sanggup Anda lakukan?

Dalam wawancara terbarunya, Kobe Bryant memberi alasan bagaimana ia menjadi seperti sekarang karena rasa ingin tahu dan imajinasinya.

Anda tidak akan menjadi pemain basket ternama sepanjang sejarah tanpa berimajinasi. Dia sendiri mengakui bahwa saat pertama kali dia tidak handal sedikitpun. Bahkan di musim pertamanya dia tidak mendapatkan satu skor pun.

Tapi ayahnya mendorong rasa ingin tahunya bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Ayahnya membantu anaknya, Kobe, untuk mengembangkan imajinasinya bahwa ia pasti bisa melakukannya.

Menurut Gold Medalist, seorang pelari, Leory Dixon, “para amatiran adalah orang yang akan menunjukkan hal yang tidak bisa Anda lakukan.”

Jika seseorang mengatakan kepada Anda tentang limit Anda, maka percayalah ia sedang menggambarkan apa yang tidak bisa ia lakukan. Merekalah para penonton dan amatiran.

Jangan dengarkan orang yang tidak mendukung imajinasi Anda untuk menciptakan tidakan kemungkinan.

Pembelajaran yang sesungguhnya adalah Emosi bukan Intelektual

“aku menyerang apapun yang membuatku takut” - Will Smith


Sangatlah mudah untuk membaca buku, sehingga terlihat pintar. Tapi apa yang sebenarnya Anda lakukan di hidup Anda?

Tindakan apa yang sebenarnya Anda ambil?

Apa hal yang paling aneh?

Pada kenyataannya pembelajaran sejati adalah tentang emosional bukan intelektual. Untuk memperoleh sebuah ide yang besar, maka hancurkan sisi terdalam diri Anda. Hal itu akan memicu respon emosi Anda dan menggantikan perspektif lama Anda tentang dunia.

Memori Anda adalah sistem operasi Anda pada dunia – itulah lensa yang digunakan untuk melihat dan mempelajari dunia. Memori itu berhubungan dengan emosi. Jiwa memori itu tercipta sesuai pengalaman emosi terhebat yang kemudian mempengaruhi tingkah laku Anda.

Daripada harus mengendalikan memori, Anda sebaiknya mencoba merasakan pengalaman emosi.

Baru-baru ini, Will Smith melakukan atraksi melompat keluar dari helicopter melintasi Grand Canyon untuk merayakan ulang tahunnya yang ke 50. Kita menganggap hal tersebut gila. Tapi baginya itu memiliki sebuah arti yang luar biasa.

Waktu Smith Kecil, dia belajar bagaimana menghancurkan rasa takutnya. Pada saat itu, ayahnya menghadapi seorang anggota gang yang sedang parkir di depan rumah mereka dengan senjata di tangannya, berencana untuk menembak Will.

Sebab itu, Ketika Will Smith takut akan sesuatu ia akan mengahadapinya.

Menurut Seth Godin, kita terbentuk dari campuran rasa takut kita. Kebanyakan orang takut akan hal-hal yang tidak berbahaya namun hal sederhana, contohnya meninggalkan zona nyaman.

Satu-satunya cara untuk mempelajari sesuatu adalah meninggalkan zona nyaman Anda. Jika tidak, Anda tidak akan mengenali resiko. Kemudian ide Anda dan keyakinan Anda tidak diuji.

Sangat mudah untuk mempelajari sesuatu saat Anda berada di kursi Anda. Namun akan sangat sulit, jika harus mempertaruhkan hal yang berharga. Seperti ketika kamu di publik. Ketika kamu gagal dan ketika kamu mendapat sedikit “like” pada FB Anda.

Apakah Anda memiliki peraturan dalam permainan Anda?

Sudahkah Anda melawan rasa takut Anda?

Sudahkah Anda melangkah keluar dari cerita Anda?

Sudahkah Anda meyakini sesuatu yang lebih besar?

Sudahkah Anda yakin untuk melakukan sesuatu yang besar untuk dipelajari dan dipahami daripada diri Anda yang sekarang?

Seberapa curam lembah yang Anda jalani hanya untuk belajar?

“Saya kira kemampuan orang kebanyaakan dapat bertambah saat berada dibawah tuntutan. Saat situasinya menuntut.” - Will Durant

Menurut seorang ahli dan pemain catur, Josh Waitzkin, potensi seseorang tidak diukur berdasarkan kemampuan alaminya. Tapi tentang seberapa kuat ia belajar.

Sederhananya, seberapa curam gunung yang pernah Anda daki?

Apakah Anda menaklukan rasa takut dan tantangan hebat Anda yang mungkin diatas kemampuan Anda karena faktor pendukung?

Apakah situasi Anda menutut Anda untuk berbuat lebih?

Apakah Anda sudah melakukan hal yang Anda belum ketahui hasilnya? Menurut Tony Robbins, “Kualitas hidup Anda sebenarnya ditentukan dengan bagaimana Anda melawan rasa takut Anda”.

Anda bisa bilang apa saja pada Tony Robbins – tapi dalam hal ini, apa yang dikatakanannya sudah teruji. Dalam ilmu Psikologi sudah dikenal sebuah konsep yang menyebutkan “Toleransi untuk sebuah Ambiguitas” hal ini berisi pembuktian dari prediksi orang-orang sukses dalam meraih kesuksesanya.

Saat Anda dapat menerima ambiguitas, maka Anda akan mulai melakukan hal-hal baru. Anda telah menerima diri untuk meninggalkan zona nyaman.

Anda lebih memilih dipermalukan daripada tidak mendapat jawaban.

Anda menyambut sindrom imposter -  dimana Anda merasa ragu akan diri sendiri namun perlu mengetahui sesuatu dan mencoba tantangaan baru.

Anda menikmati berada dalam percakapan yang aneh yang memberi Anda sebuah kesempatan besar. Seperti yang dikatakan Ferris, “Kesuksesan seseorang dalam hidupnya biasanya diperoleh dari banyaknya jumlah percakapan yang tidak menyenangkan.”

Ketakutan terbesar manusia adalah ketidakpastian. Kita benar-benar ingin meramalkan masa depan.

Ketidapastian adalah sumber ketakutan terbesar. Itulah yang membuat setiap orang berdiam di satu tempat saja. Menjelajahi ketidakpastian itu adalah pembelajaran yang sesungguhnya – bukan hanya duduk diam memegang sebuah buku.

Jangan salah paham, buku itu bagus! Memeproleh ilmu itu memang bagus untuk mengatasi masalah. Tapi itu tidak ada artinya tanpa kecerdasan emosional dan tujuan hidup.

Menurut Yunani kuno, pengetahuan disebut “Gnosis,” yang menggambarkan bahwa pengetahuan diperoleh dari pengalaman dan cakupan keseluruhan seseorang. Itulah pengetahuan yang sejati. Menurut defenisi ini, realitas dan pengetahuan tidak sedikitpun mengenai konsep, dogma bahkan teorinya. Bukannya pengetahuan dan pemahaman, namun pengalaman adalah yang utama.

Kerasnya medan belajar Anda yang akhirnya akan menunjukkan situasi hidup Anda.

Tujuan apa yang sebenarnya Anda inginkan?

Tantangan apa yang Anda hadapi sekarang, yang tidak pernah Anda hadapi sebelumnya?

Seberapa banyak Anda belajar – lewat pengalaman orang bukan hanya buku?

Berapa banyak hidup Anda berubah dalam kurun waktu 12 bulan terakhir?

Menurut filsuf dari Inggris, Alain de Botton, “siapapun yang tidak merasa malu dari masa lalu kemungkinan ia tidak mempelajari apapun”

Jika tidak ada perubahan signifikan dari hidupmu dalam 12 bulan terakhir maka Anda tidak mempelajari apapun.

Mungkin Anda mendapat banyak informasi, namun Anda tidak mengamalkanya. Anda tidak lebih seperti murid yang belajar teori saja namun tidak melakukan praktik.

Jika Anda adalah orang yang sama seperti tahun-tahun lalu berarti Anda tidak menambah pengalaman apapun. Anda tidak termasuk dalam jajaran orang yang mampu tampil dan menyelesaikan masalah, Anda diciptakan tidak memiliki imajinasi.

Alasan mengapa orang-orang gagal adalah mereka belajar sesuai teori dan tidak mengembangkan imajinasi.

Kesimpulan: Anda membutuhkan sesuatu yang lebih hebat.

Diawali dengan pertanyaan, kemudian muncul jawaban. Hidup itu terlihat seperti jawaban misterius yang dapat berkamuflase, sehingga hanya orang yang benar-benar terinspirasi yang dapat mengetahui jawabannya.”__Jim Rohn

Ketika Anda mampu menyeleksi alasan, maka Anda mampu mendapatkan jawaban. Ketika Anda memiliki tujuan yang hebat, maka Anda akan menjadi lebih selektif dalam mempelajari sesuatu. Anda hanya mempelajari apa yang dapat Anda gunakan dan aplikasikan. Anda bukan seorang dewan filsuf. Anda sebenarnya berada di dunia, mencoba untuk menyelesaikan masalah.

Anda memiliki aturan dalam permainan.

Anda menguji ilmu Anda pada kenyataan bukan hanya dalam kepala.

Anda seharusnya membangun sesuatu yang hebat.

Kapan terakhir kali Anda melakukan hal yang luar biasa?

Kapan terakhir kali Anda menaklukan emosi Anda dengan melampaui batasanmu, ketakutanmu dan kelemahanmu?

Kapan terakhir kali Anda melakukan hal yang tidak berguna?

Kapan terakhir kali Anda menaklukkan rasa takutmu yang akhirnya membawa Anda kembali?

Pada saat yang bersamaan Anda harus meninggalkan teori dibelakang dan melangkah keluar dari zona nyaman Anda menuju hal yang tidak diketahui.

Kapan terakhir kali Anda melakukannya, sekalipun memakai  jalan pintas?

Apa yang akan terjadi jika Anda menghadapi ketakutan terbesar Anda?

Bagaimana jika Anda memaklumi kebimbangan?

Bagaimana jika Anda berhenti menghiraukan pendapat orang tentang Anda? Bagaimana jika Anda berhenti mengali ilmu dan beralih melakukan hal yang lebih penting?
Bagaimana jika Anda menaklukkan rasa penasaran terhebat Anda?

Bagaimana jika Anda menuruti imajinasi Anda dan berubah menjadi sesuatu yang lebih baik daripada mendengar tuntutan orang lain?


Share